Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Cerita Ngewe Anal dan Puki Basah Nafa Urba

 Aopok.com - Mukanya imut sekali, kemasan luarnya lugu. Tubuhnya mengundang selera, mulai dari postur yang tegak, bongkahan pantat yang besar padat berisi, buah dada yang kencang dan tegak, serta mata yang sendu. Image ini seperti menggoda terus pria manapun untuk mencoba dia, tapi jarang ada yang berani karena mereka tahunya Nafa adalah gadis lugu dan baik-baik, mulutnya kerap mengatakan kutipan-kutipan berfilosofi.

Tapi itu dulu. Sudah kelewat banyak yang tahu misalnya, ia suka menenggak Long Island hingga bergelas-gelas dengan muka bersemu kemerahan karena isi kepalanya “loaded with heavy alcohol”. Itu belum cukup, tidak aneh jika alkohol bersaudara dekat dengan sex. Menurut satu penata rias bencong yang menjadi karib Nafa, ia sering menjadi perantara jika ada pria ingin “lebih intim” dengan Nafa.


Hair dresser dan make-up man ini menjadi comblang dengan sejumlah patokan-patokan. Yang dicari adalah tajir, muda, tampan, dan Nafa harus sreg duluan. Maklum, mungkin Nafa belum selihai Sarah Azhari yang bisa tutup mata tutup telinga menghadapi pria mana saja. Setelah mendengar kabar burung ini, team P. A. S segera melakukan penyelidikan terhadap artis “berpantat montok” Nafa U.

Banyak yang tidak percaya kenyataan ini, banyak yang masih menganggap dia adalah gadis alim yang salihah, dan ada juga yang langsung terhenyak ketika diberitahu hal ini lalu membantah dengan keras. Tapi setelah team P. A. S menunjukkan semua bukti dan saksi-saksi, Nafa tidak dapat mengelak lagi.
“Iya deh Mas, saya mau di wawancarai dengan jujur. Tapi saya mohon jangan disebarkan ke publik semua bukti dan saksi ini.”
Setelah mengadakan negosiasi dan sedikit ancaman kepada Nafa U, kami mulai menanyai tentang segala lika-liku kehidupannya.

Banyak orang menganggap tubuh Nafa selalu mengundang birahi setiap lelaki yang melihatnya.
“Ah, masa’ sich? Memang aku selalu merawat tubuhku dengan rajin. Sekarang aku juga lagi diet agar perutku lebih datar dan kenceng. Terus makan sayuran, dan minum jamu. Fitness aku 3 jam sehari.”
Nafa melakukan semua itu untuk mendapatkan bentuk tubuh yang lebih sempurna. Itulah salah satu sifat buruk Nafa U, dia tidak pernah puas akan dirinya sendiri.”Serakah”, itulah kata yang tepat untuk menggambarkannya.

Lalu kembali ke isu yang menerpanya, bagaimana Nafa menanggapi pengakuan dari hair dressernya.
“Iya Mas, dia benar kok. Gimana lagi ya Mas, sejak putus sama Primus aku ngga’ tau mau kusalurin kemana nafsu birahi aku. Jujur aja Mas, nafsu birahi aku besar sekali. Klo udah gitu aku buru-buru browsing internet, lihat pic-pic hardcore atau penis-penis cowok. Sambil gitu, aku ngocok vaginaku sendiri pake jari aku. Kalo di rumah, aku lihat VCD porno sambil ngocok vaginaku pake penis vibrator dari karet. Besar lo Mas, penis karetnya. Sakit sich waktu kumasukin ke vaginaku, tapi kalo udah masuk semua terus di kocok enak banget dech Mas.”

Primus Yustisio ketika dikonfirmasi team P. A. S tentang hubungan seksualnya semasa masih dengan Nafa U, bersedia menceritakan tentang seorang Nafa U sebenarnya.
“Nafa itu orangnya sombong dan egois, aku selalu nasehatin dia agar lebih mau peduli kepada orang lain. Tapi dia selalu marah-marah. Aku sich sabar menghadapi dia. Tapi karena bosan dengan sikapnya yang arogan itu, aku putus hubungan dengannya.”



Mengomentari tentang nafsu sex Nafa yang besar Primus mengakuinya.
“Ya Mas, nafsu sex Nafa sangat besar. Aku selalu kewalahan menghadapinya di ranjang. Kami sudah melakukan berbagai macam posisi sex yang mungkin dilakukan. Posisi yang disukai Nafa yaitu, aku di bawah sedangkan Nafa duduk di atas penisku. Jadi dia bisa mengontrol kedalaman dan kecepatan penisku dalam memeknya. Kalo saya sendiri suka doggy style. Saya bebas menusuk memeknya sampai paling dalam, sampai Nafa teriak-teriak kesakitan. Sambil kedua tangan saya meremas-remas kedua susunya yang menggantung bebas.” Lanjut Baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Istri Ku Sedang Colmek Di Entot Teman

 Biodataviral.com - Ketika itu kerajaan Human (manusia) dan Elf (peri) membentuk persekutuan (The Alliance) melawan bangsa Orc yang menyerbu daerah mereka. Secara fisik Elf mirip manusia, namun lebih tinggi dan kurus. Kaum prianya rata-rata 190-200 cm dan wanitanya 170-180 cm. Kulit elf lebih halus dan putih sehingga banyak kaum wanitanya lebih cantik dan menarik dibanding wanita Human. Karena kemiripan diantara mereka serta hubungan baik diantaranya, tak jarang adanya perkawinan antar kedua ras tersebut. Keturunan pria human dengan gadis elf atau sebaliknya disebut Half Elf (setengah elf).


Setelah pasukan Sekutu (The Alliance) berhasil mengalahkan Orc, sisa-sisa Orc diperbolehkan tinggal di daerah mereka asal tidak berbuat keonaran lagi. Namun perdamaian tak berlangsung lama karena munculnya pasukan Undead (bangsa hantu, makhluk mati yang hidup abadi) yang sangat kuat entah darimana asalnya. Mereka menguasai daerah perbatasan dan membunuhi penduduk Human, Elf, maupun Orc. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, bangsa Orc setuju berjuang bersama pasukan Sekutu melawan musuh bersama, Undead. Merasa kuat, pasukan Undead langsung menyerbu jantung pertahanan pasukan Sekutu.

Namun ternyata tentara Sekutu berhasil menghancurkan sebagian besar kekuatan Undead. Semua ini berkat superioritas strategi jenderal-jenderal Sekutu, diantaranya Pangeran Arthas (putra mahkota kerajaan Human, Lordaeron), Lord Uther (pemimpin Orde Paladin, pasukan elit berkuda Lordaeron), Jaina Proudmoore (penyihir putih atau Archmage, putri dari mendiang Admiral Proudmoore), Sylvanas Windrunner (pahlawan wanita elf yang muda dan berani), serta pahlawan baru Thrall (pemimpin muda bangsa Orc dengan ilmu sihir petirnya yang menyambar musuh-musuhnya, Chain Lightning spell).

Sementara pemimpin pasukan Undead, Lich King, yang tanpa jasad berkomunikasi lewat Necromancer (penyihir jahat) bernama Kelth’uzad. Lich King menyadari meski pasukannya lebih kuat dibanding Sekutu, namun mereka tidak memiliki pemimpin perang yang handal seperti musuhnya. Akhirnya ia menjebak pahlawan muda yang emosional, Pangeran Arthas untuk bertempur di pihaknya. Ia memprovokasi Pangeran Arthas ke daerah Frostmourne yang dingin bersalju dan disana ia mengontrol jasad dan keahlian si pangeran. Kini Arthas bukanlah dirinya sendiri namun Lich King yang berada didalamnya.




Pasukan sekutu yang tidak menyangka bahwa Arthas berbalik mengkhinati mereka, dengan mudah dapat dihancurkan. Arthas mendatangi ibukota Lordaeron, membunuh ayahnya sendiri dan mengklaim kerajaan Lordaeron sebagai miliknya. Lord Uther, walau mengalahkan Arthas dalam pertempuran satu lawan satu, akhirnya terbunuh setelah Arthas mengeroyok rame-rame dengan pasukan Undead-nya. Sementara Jaina dan Thrall masing-masing melarikan diri entah kemana.

Sisa tentara Elf segera mundur ke wilayahnya sendiri membuat pertahanan yang kuat. Kuatnya magic elf serta kegigihan perlawanan Sylvanas awalnya mampu merepotkan tentara Undead dan membuat kesal Arthas. Namun sehebat apapun, berkat keunggulan jumlah dan kualitas tentara Undead, akhirnya Undead berhasil mendesak musuh sampai ke ibukotanya. Kini Arthas sedang menyiapkan pasukannya untuk habis-habisan menggempur ibukota Quel’thalas, pertahanan terakhir bangsa Elf. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Alexander Homoseksual Yang Agung 2

 Aopok.com - Sinar matahari sore membangunkan Hephaestion dari tidurnya. Pemuda itu bangun dan menemukan dirinya sedang berbaring di atas dada Alexander yang telanjang. Ditatapnya wajah kekasihnya itu. ‘Ah, Alexander, kau sangat tampan. Betapa aku sangat mencintai dirimu, wahai Alexander-ku. Aku ingin mencintaimu untuk selamanya. Semoga para dewa berkenan akan cinta kita dan membiarkan kita bersama sampai kita tua.’ Hephaestion bangun dan mencium bibir Alexander dengan mesra. Alexander hanya bergumam, masih tertidur. Hephaestion ingat bagaimana Alexander mencumbuinya untuk yang pertama kalinya seusai pelajaran homoseks dengan Aristoteles.


Pemuda itu tersmeyum sendiri, membayangkan saat-saat indah itu. Dengan jarinya, Hephaestion menjelajahi tubuh Alexander yang indah itu. Jarinya membelai halus lembah yang memisahkan dada Alexander menjadi dua bagian yangs sama besar. Jari itu pun turun ke perut Alexander yang berkotak-kotak. Untuk sesaat, Hephaestion meremas-remas lembut perut Alexander itu. Berikutnya, dia menjelajah turun dan sampai pada kontol Alexander yang tertidur.

Kontol itu indah sekali. Hephaestion tak dapat menahan dirinya untuk tidak mencium kontol yang indah itu., Kulup masih menutupi kepala kontol Alexander. Hephaestion memegangi kontol itu dan menurunkan kulup itu dengan hati-hati, tak ingin membangunkan Alexander. Kepala kontol Alexander menampakkan dirinya. Nampak precum masih membasahi kepala kontol itu, membuatnya makin kemerahan dan berkilat-kilat. Pelan-pelan, Hephaestion mejulurkan lidahnya dan menyapukannya pada kepala kontol itu. Seperti orang yang sedang mengecat, Hephaestion menggerakkan lidahnya naik-turun, membasahai kepala kontol itu. Secara tidak sadar, kepala Alexander bergerak-gerak sambil menggumamkan sesuatu. Hephaestion tidak peduli dan terus saja menjilati kontol itu.

Bosan menjilat saja, Hephaestion pun membuka mulutnya lebar-lebar dan memasukkan kontol Alexander yang berdenyut-denyut ke dalamnya. Kontol itu pun masuk ke dalam rongga mulut Hephaestion yang hangat dan basah itu. Alexander hanya mengeluarkan erangan tertahan, masih tertidur. Berhati-hati, kekasih Alexander itu pun mulai menyepong kontol Alexander.

“Mmmpphh!! Mmmpph!! Mmm!! Mmpphh!!” begitu suara yang keluar dari mulut Hephaestion. Namun semakin lama dia menyedot kontol Alexander, semakin dia menjadi tak sabaran, Maka mulailah dia menyedot lebih keras. Slurp! Slurp! Slurp! Mmmpphh! Mmmpphh!!

Kontol Alexander semakin berdenyut-denyut, penuh dengan kegairahan. Namun Alexander sendiri masih tertidur. Saat itu, dia sedang bermimpi mengentotin pantat Hephaestion. Alexander memang sangat mencintai kekasihnya itu. Bahkan dalam mimpi, dia masih sempat ngentot dengannya.


“.. Aaahh.. Ooohh.. Aaahh..” erangnya tak karuan.

Tubuhnya mulai bercucuran keringat dan mulai menggeliat-geliat.

“.. Aaahh.. Aaahh..”

Pejuh mulai terpompa dari bola pelernya dan naik ke kontolnya, lalu tersemburlah semua. Cccroott!! Ccrroott!! Cccrroott!! Bergalon-galon liter pejuh masuk ke alam mulut Hephaestion yang lapar. Dengan erangan panjang Alexander terbangun dari tidurnya. Saat dia terbangun, tubuhnya didera oleh orgasme yang luar biasa. Alexander mengejang-ngejang dan terus berejakulasi. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Alexander Homoseksual Yang Agung 1

 Aopok.com - Alexander (356-323 S.M) yang bernama asli Alexandros Philippou Makedonon dan bergelar Alexander II of Macedon dikenal sepanjang masa. Semasa pemerintahannya, kerajaannya membentang dari Yunani sampai India dan Babylonia. Bahkan wilayah kerajaan Roma tak dapat menandingi luasnya wilayah kekuasaan Alexander. Banyak yang mengenal Alexander, tapi sedikit yang tahu bahwa Alexander adalah seorang raja HOMOSEKSUAL! Dia jatuh cinta pada sejumlah pria. Bahkan dia sering tampil telanjang bulat di hadapan para prajuritnya. Pernikahannya dengan beberapa wanita hanya untuk keperluan diplomatis saja. Tapi cinta sejatinya hanya dengan Hephaestion (357-324 S.M), teman mainnya sejak kecil. Kisah cinta homoseksualnya itu tercatat dalam sejarah! Berikut adalah cerita tentang saat-saat terakhir mereka, sebelum Hephaestion yang malang menemui ajalnya..


Saat itu tahun 324 S.M Alexander baru berusia sekitar 32, gagah dan tampan. Dia dipuja-puja oleh rakyat dan tentaranya. Tubuhnya tegap dan berotot berkat latihan militer yang dia kuasai, diabadikan dalam berbagai patung dirinya. Namun, banyak yang mengatakan bahwa Alexander sebenarnya pendek, tinggi badannya hanya 156 cm saja. Sedangkan Hephaestion, umurnya kira-kira sama dengan umur Alexander. Sejarah mencatat bahwa Hephaestion berperawakan tinggi serta luar biasa tampan. Itulah sebabnya Alexander jatuh cinta kepadanya. Hubungan cinta Hephaestion dengan sang raja sudah bukan rahasia lagi, dan tak ada yang menganggap hal itu aneh. Homoseksualitas adalah hal umum di kalangan masyarakat Yunani kuno. Alexander baru saja menaklukkan kerajaan Babylonia, butuh waktu lama untuk menaklukkan bekas wilayah kekuasaan Raja Darius itu. Berkat bantuan Hephaestion, yang telah diangkat sebagai tangan kanannya, Alexander berhasil mengekspansi wilayah kerajannya. Semua orang takut pada Alexander, sampai-sampai dia dijuluki monster bertanduk sepuluh (sesuai dengan bentuk helm perangnya).

Sebagai seorang raja, Alexander punya banyak tanggungjawab, salah satunya adalah menginspeksi semua ibukota jajahan kerajaannya. Pada akhir musim panas yang tragis itu, Alexander memutuskan untuk berkunjung ke kota Ecbatana. Nampaknya semua berjalan dengan baik dan Alexander puas sekali melihat perkembangan kota jajahannya itu. Sore harinya, beberapa jam sebelum jamuan minum besar, Alexander memanggil Hephaestion ke kamarnya.

“Anda memanggil saya, Yang Mulia?” tanyanya sopan, setelah menutup pintu di belakangnya. Meskipun Hephaestion merupakan kekasih tak resmi dari Alexander, dia juga merupakan bawahan Alexander. Jadi basa-basi formal amat diperlukan.

“Benar, Hephaestion. Ayo, mari duduk di sini, kekasihku. Tapi sebelumnya lepaskan semua pakaianmu itu,” perintah Alexander yang telah lebih dulu berbaring di atas tempat tidurnya dalam keadaan telanjang bulat.


Hephaestion pun menghampiri Alexander tanpa rasa canggung sedikit pun. Melihat tangan Alexander yang terbuka menyambutnya, Hephaestion pun naik ke atas ranjang dan berbaring di samping tubuh kekasihnya itu. Melihat Alexander Agung telanjang bulat sudah bukan pemandangan baru untuk Hephaestion. Dia sudah sering sekali melihatnya dalam keadaan seperti itu, sejak mereka masih berumur belasan tahun. Saat itu mereka berdua masih menjadi murid Aristoteles yang termasyur itu. Hephaestion teringat ketika mereka diajarkan seks pertama kali oleh guru mereka itu.. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Cerita Ibu Mertuaku Seorang Janda Buas

  Aopok.com - Cerita Ibu Mertuaku Seorang Janda Buas - Keluarga istriku terdiri dari ibunya yang tak lain adalah mertuaku. Namanya Heny, umurnya baru 38 tahun, kelahiran tahun 1964. Mertuaku yang peracik jamu ini adalah istri ketiga dari camat di kampungya dari pernikahannya yang menghasilkan tiga anak. Anak pertama Cheny, 24 tahun, bekerja pada salah satu toko swalayan di Bandung, kedua Venny yang menjadi istriku, 22 tahun, seorang karyawati di perusahaan swasta dan ketiga Nony masih 20 tahun, baru lulus SMU dan masih menganggur. Ketiga wanita inilah yang pernah menjadi santapan seksualku.


Mertuaku yang biasa kupanggil Mama ini pindah ke Bandung setelah suaminya meninggal dan tinggal di rumah anak dari istri pertama suaminya. Sebenarnya suaminya memiliki cukup banyak harta tetapi karena mertuaku kawin di bawah tangan, jadi dia tidak mendapatkan harta warisan apa-apa selain perhiasan-perhiasan dari suaminya itu. Karena ada perselisihan, mertuaku dan ketiga anaknya pindah dari rumah itu dan memulai usaha menjadi penjual jamu gendong untuk menafkahi ketiga anaknya. Namun karena sekarang ini dia merasa sudah tidak mempunyai tanggungan apa-apa lagi dan juga telah mempunyai rumah di pinggiran kota Bandung, dia sudah berhenti dari kegiatannya itu. Aku dan istri setiap akhir bulan selalu menyempatkan diri ke rumah mertuaku sekaligus membawa uang ala kadarnya sekedar untuk menambah biaya hidup sehari-hari.

Namun pada hari itu, Sabtu, entah kenapa istriku tidak enak badan dan menyuruhku pergi sendiri saja. Kubawa motorku ke arah selatan kota Bandung hingga satu jam kemudian aku sampai di rumah yang sederhana tapi kokoh itu. Rumah itu sepi namun pintunya terbuka lebar-lebar. Seperti biasanya kurebahkan tubuhku di bangku bale-bale bambu yang ada di ruang tamu untuk melepas lelah. Tak lama kemudian mertuaku datang.
"Eh, Dik Willy, sudah lama Dik?"
Dia menyapaku memang kesannya basa-basi tetapi sebenarnya tidak.
"Enggak, barusan kok", jawabku menyambut sapaannya.
"Mana Ida?", tanyanya.
"Lagi sakit, Ma. Katanya demam tuh, kusuruh istirahat saja" jawabku.
"Oh, wah, wah, wah, jangan-jangan tanda-tanda mau punya anak tuh", ujar mertuaku senang.
Memang dia ini sangat mendambakan cucu dari pernikahan kami.
"Mudah-mudahan, Ma"
"Ya sudah, sudah makan belum. Mama punya sayur asem sama ikan asin pake sambel terasi, kamu mau nggak?", mertuaku menawariku makan.
"Iya, aku mau banget tuh"
Bergegas aku ke ruang makan dan melihat hidangan yang ditawarkannya itu masih belum disentuh siapapun. Sambil makan kami mengobrol lagi.
"Nony ke mana Ma?" tanyaku.
"Katanya piknik sama temen-temennya ke luar kota, kemarin sore berangkatnya"
"Oh", jawabnya.

Memang mertuaku hanya tinggal berdua dengan Nony karena Cheny lebih memilih kost di dekat tempatnya bekerja. Kami mengobrol tentang macam-macam sampai obrolan yang nyerempet-nyerempet.
"Kamu ini sudah hampir dua tahun kok belum punya anak juga?"
"Ya enggak tahu tuh, Ma"
"Apa kamunya yang nggak bisa? Kalo nggak bisa sini Mama ajarin"
"Ajarin apa, Ma?"
"Mama buatin jamu biar subur"
"Ah bisa aja Mama nih"
Obrolan sengaja kupancing dan kuarahkan ke masalah seksual.
"Ma saya boleh nanya nggak?"
"Apa?"
"Dulu Pa'e sering dibuatin jamu nggak?"
"Ya kalo lagi sakit aja"
"Untuk yang lain?"
"Yang lain tuh apa?"
"Jamu kuat lelaki misalnya?"
"Ha, ha, ha, kamu ini ada-ada saja. Nggak usah pake begituan juga mertua lakimu itu sudah kuat, kok. Malah sebelum mati dia nambah lagi satu"
"Jadi nggak pernah sama sekali, Ma?"
"Pernah sich sekali-kali. Itu juga dia yang minta"
"Terus Mamanya gimana?"
"Ya tokcer lah, ha, ha, ha, eh, kamu kok tanya itu sih?"
"Terus sekarang ini Mama kalo lagi pengen gimana?"

Wajahnya sedikit memerah tetapi dijawabnya juga, "Ya, banyak-banyakin aja kerjaan, ya masak, nyuci piring, nyapu pekarangan, entar juga lupa, terus sudahnya, capek, ya tidur"
"Oh", jawabku.
"Kamu ini nanyanya ngawur, aja"
"He, he, he.."
"Sudah sore sana mandi"
"Iya Ma"

Sementara aku mandi, kurasakan penisku yang sudah berdiri tegak. Kukocok penisku sambil membayangkan tubuh mertuaku. Mertuaku ini masih lumayan kencang walau sudah memiliki anak tiga. Menurut istriku, dia rajin luluran kulit sawo matang disertai dengan minum jamu rutin. Perutnya masih cukup ramping walaupun sudah ada sedikit lipatan-lipatan lemak. Buah dadanya yang berukuran 36B itu tetap kencang karena ramuan dari luar disertai jamu-jamuan demikian juga dengan bongkahan pantatnya. Satu hal lagi, dia ini tidak pernah memakai daster, atau baju apapun. Pakaian sehari-harinya adalah kain kebaya dengan kemben yang dililit hingga dadanya.
"Dik Yanto, nanti kalau sudah airnya diisi lagi ya?"
"Iya, Ma".

Setelah mandi kupompa air di luar kamar mandi sementara itu mertuaku berjongkok mencuci piring di bawah pancuran pompa tangan. Ember yang telah terisi kubawa ke kamar mandi untuk diisikan ke bak, begitu seterusnya hingga penuh. Sambil memompa kuperhatikan belahan buah dada mertuaku hingga membuat penisku berdiri lagi hingga tak sadar handukku terlepas.
"Wah, semalem belum dikasih 'makan' ya?", begitu sindir mertuaku.
"Iya nih, Ma"
"Kenapa sih kamu kok cuma liat nenek-nenek aja langsung berdiri?"
"Abis Mama montok sih", jawabku asal saja.
"Hus, apanya yang montok"
"Itu belahan teteknya, makanya saya jadi begini"
"Oh ini, mau lihat?"
"Iya, mau, mau Ma"
Sejenak dia berbalik terus membuka kembennya hingga perutnya yang cukup ramping itu terbuka.
"Nih, liat aja", katanya sambil kupegang buah dadanya.
"Eh katanya cuma liat?"
"Ya liat sama pegang, Ma"
Kuremas-remas buah dadanya hingga nafasnya tersengal.
"Sudah To, sudah"
Tapi aku terus saja meremasnya dengan bersemangat.
"Sudah To, Mama mau mandi dulu"
"Bener mau mandi apa mau yang lain?"
"Bener Mama mau mandi"
"Nanti lagi ya?"

Mertuaku tidak menjawab, hanya berlalu ke kamar mandi.
Aku tunggu di kamar tidurnya hingga beberapa menit kemudian mertuaku sudah masuk ke kamarnya lagi. Tubuhnya hanya berbalut kain saja. Yang membuatku kaget adalah mertuaku membuka begitu saja kainnya di hadapanku yang masih berbaring. Kulihat buah dada yang cukup sekal tadi disertai dengan perut yang ramping dan pantat yang montok. Yang membuatku tak tahan adalah belahan vaginanya yang berbulu sangat lebat berbentuk segitiga. Pelan-pelan kudekati dia dengan pelukan yang cukup hangat dan ciuman yang kuat di bibirnya, mertuaku hanya pasrah saja. Kuteruskan tindakan yang tadi kulakukan di luar. Kali ini aku berjongkok lalu kumainkan vaginanya dengan mulutku sementara tanganku naik turun bergantian. Kuremas-remas bongkahan pantatnya yang padat itu dengan tangan kanan dan tangan kiriku memelintir-melintir puting susunya dengan sesekali menjumput dan meremas buah dadanya itu. Begitu terus bergantian dengan tangan kanan dan kiri. Pada saat yang bersamaan kuhisap-hisap dengan gemas bibir vaginanya.
"Aghh, aghh, aghh", suara itu keluar dari mulut mertuaku di iringi dengan suara dari mulutku yang terus menghisap vaginanya yang banjir itu.
Begitu seterusnya hingga, "Udahh, aghh, masukin aja punya kamu, To".

Aku rebahkan mertuaku ranjang dengan pantat dan pinggulnya berada di pinggir ranjang, kedua kakinya kuangkat ke bahuku. Aku berlutut di lantai dengan penisku berada tepat di pintu liang vagina itu. Kumain-mainkan dulu kepala penisku di kelentitnya dengan berputar-putar lalu baru kuturunkan ke vaginanya. Perlahan tapi pasti kumasukkan penisku ke liang vaginanya.
"Eghh.., sstt, pelan-pelan, To"
"Mama kayak perawan aja"
Setiap dorongan sepertinya ada yang mengganjal penisku di dalam vaginanya.
"Eghh, aduh sakit, To"
"Hah, sakit?"

Sambil mendorong kugoyang-goyangkan juga pinggulku ke kiri dan ke kanan supaya lorong vaginanya agak melebar. Setiap dorongan juga kutarik sedikit penisku keluar lalu kudorong lagi supaya bagian yang sulit ditembus itu agak terbuka. Lalu, sleb, sleb, sleb, dengan tiga kali dorongan penisku sudah masuk semua ke dalam rongga vagina mertuaku. Aku berdiam sesaat hingga kurasakan denyutan kecil seperti hisapan-hisapan lembut. Ternyata mertuaku mempunyai vagina yang bisa menghisap-hisap penis. Mungkin karena jamu-jamuan yang rutin diminumnya sehingga dia bisa seperti ini.
"Ayo To, nunggu apa lagi?"

Kutarik dengan diiringi helaan nafasku, lalu ku dorong lagi hingga bless, bless, bless, penisku tertancap hingga pangkalnya. Keluar juga suara kecipak dari vagina mertuaku. Dari mulut kami juga keluar suara-suara desahan dan lenguhan nafas kami mewarnai suasana yang erotis.
"Aghh, aghh, aghh, shh, ohh, aghh", begitu suara deru nafas mertuaku.

Aku tetap berkonsentrasi supaya penisku tidak menembak lebih dahulu dan orgasme namun karena nikmatnya vagina mertuaku ini membuatku tak tahan. Namun dengan mengatur nafas aku bisa mengimbangi permainannya. Sudah hampir satu jam kami saling asyik masyuk sampai tanda-tanda akan orgasme terasa pada kami.

Kulihat gerakan mengejang dari perut mertuaku dan juga wajahnya yang semakin terlihat gelisah disertai keringat dan matanya yang turun seperti fly, kepalanya yang bergeser ke kiri dan ke kanan, tangannya juga berusaha menggapai apa yang bisa diremas. Itu biasanya gejala wanita yang akan orgasme.
Tak lama kemudian, "Aghh, cepetan To, aku mau nyampe nih"
"Aku juga, aghh"
"Iiihh, aghh, ehmm, aghh"
Begitu jeritan kecil dari mulut mertuaku disertai deru nafasnya menandakan bahwa dia telah orgasme.
"Ughh, ughh, ughh", begitu sisa nafasnya menikmati sensasi orgasme yang tiada tara.

Aku juga merasakan hal yang sama dengan mengejangnya seluruh tubuhku dan menyemprotnya spermaku, entah berapa kali kusemprotkan cairan penuh kenikmatan ini ke dalam rahim mertuaku.
Tubuh kami langsung lunglai. Aku langsung berbaring telungkup diatas mertuaku dengan kondisi penis yang masih menancap di vaginanya. Tak lama kemudian peniskupun layu dan terlepas dengan sendirinya dari liang vagina yang nikmat itu.
"Kamu hebat juga, To"
"Iya dong, Ma"
"Jangan panggil Mama lagi"
"Siapa dong?"
"Heny aja"
"Iya Hen, ughh gimana enak nggak?"
"Enak tenan, lho"

Mata mertuaku langsung sayu dan terpejam lalu tertidur. Aku turun dari tubuhnya dan juga merasa mengantuk sekali hingga aku juga tertidur. Tak terasa kami tertidur hingga aku terbangun dan mertuaku masih di sisiku sambil memeluk tubuhku. Tubuh kami masih telanjang bulat ketika itu.
Tiba-tiba, "Ehmm, he, he, gimana kamu puas nggak?"
"Iya Hen, aku puas banget. Aku sudah pengen begini sama kamu sejak lama tapi nggak tahu harus gimana dan takut kamunya marah"
"Hhh", mertuaku menghela nafas lega.
"Yah, kan sekarang sudah", kataku.
"Tapi To, aku masih serr-serran lho", begitu katanya sambil menggenggam penisku yang sedari tadi agak lunglai terasa seperti ingin bangun lagi.
Sepertinya mertuaku ini tahu bagaimana cara membangunkan kembali penis melalui tekanan-tekanan pada urat-urat di tempat lain. Aku langsung menciumi buah dadanya dan tanganku mengobok-obok vaginanya. Mertuaku mulai terangsang kembali dan dengan cepat aku berada di posisi siap di atas tubuhnya. Dengan sekali dorongan, penisku sudah menancap di dalam vagina yang sudah becek itu.
Mertuaku berkata, "To, aku yang di atas yah?"
"Emangnya bisa?"
"Bisa dong, kan udah nontonn filmnya Cheny", rupanya mertuaku sering menonton VCD blue film dengan anaknya, Cheny.

Jadi tidak heran kalau dia faham posisi-posisi dalam bercinta. Dengan berguling kini posisi tubuhnya berbalik berada di atasku. Mertuaku mencoba duduk dengan melipat kakinya lalu dia mulai bergoyang maju-mundur dan memutar ditingkahi dengan suara dari vaginanya hingga menambah gairahnya untuk memacu goyangannya. Aku dari bawah hanya memegangi buah pantatnya dan tanganku yang satu memainkan kelentitnya yang berada tepat berada di perutku. Hanya sekitar setengah jam mertuaku mulai menampakkan gejala ingin orgasme. Dalam hitungan detik dia sudah orgasme. Tubuhnya kembali lunglai dan berbaring di atas dadaku. Namun aku belum, hingga secepat kilat aku berbalik dan berada di atasnya dan langsung bergoyang untuk mengejar orgasmeku.
"Aduhh udahh To, aughh, gelii, To..", hingga beberapa detik kemudian aku merasakan orgasmeku yang kedua begitu nikmat dengan tembakan spermaku yang masih cukup kuat.

Kami kemudian mengobrol hal-hal yang berbau pornografi dan erotis hingga terangsang kembali dan kami bersenggama lagi, begitu seterusnya hingga subuh. Entah sudah berapa kali kami melakukan hal yang sebenarnya merupakan aib bagi keluarga kami sendiri. Sekarang ini mertuaku sudah mempunyai cucu dan lebih menjaga jarak denganku. Dia merasa hal yang sudah kami lakukan itu adalah aib dan tidak sepantasnya dilakukan, dan jika kusinggung soal hal itu dia nampaknya agak marah dan tidak suka. Dia telah menjadi nenek yang baik bagi anakku. Baca selengkapnya!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Cerita Ngentot Adikku Tersayang

  Iklans.com -  Segar sehabis mandi, Evi keluar dari kamarnya dan dari teras di depan kamarnya di lantai 2, ia melihat adiknya, Nita, memasuki rumah dengan wajah merah kepanasan, namun tampak ceria. Nita baru pulang dari sekolah, kemeja putih dan rok birunya tampak lusuh. Tak melihat siapa pun di rumah, Nita langsung naik dan masuk ke kamarnya lalu menyalakan AC. Ia mencuci muka dan tangannya di kamar mandi dalam kamarnya saat mendengar kakaknya bertanya, “Hey, gimana pengumumannya?”

Nita keluar dari kamar mandi mendapatkan Evi bersandar di pintu kamarnya dengan tangan ke belakang.
“Nita diterima di SMA Theresia, Kak!” jawab Nita dengan ceria.
Evi berjalan ke arahnya dan memberikan sebuah kado terbungkus rapi.
“Nih, buat kamu. Kakak yakin kamu diterima, jadi udah nyiapin ini.”
“Duuh, thank you, Kak!” Nita setengah menjerit menyambar kado itu.

Evi duduk di ranjang Nita sementara adiknya duduk di meja belajarnya membuka kado itu dan mendapatkan sebuah gelas berbentuk Winnie the Pooh, karakter kartun kesukaannya, sedang memeluk tong bertulisan “Hunny”. Kali ini Nita benar-benar menjerit, “Aaah, bagus banget! Thank you, Kak!”

Nita melompat ke ranjang dan memeluk kakaknya erat-erat, dan dengan tiba-tiba mencium bibir Evi. Evi tersentak, bukan karena Nita menciumnya, tapi karena getaran elektrik yang ia rasakan dari bibir adiknya yang basah menyambar bibirnya dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Ciuman yang sebenarnya hanya berlangsung beberapa detik itu membuat jantung Evi berdebar. Nita melepas ciumannya, namun tak melepas pelukannya yang erat. Evi tersenyum berusaha menutupi perasaannya, lalu mengecup bibir adiknya dengan lembut. Nita meletakkan gelas itu di meja kecil di sisi ranjangnya dan merebahkan diri. Ia menarik Evi agar berbaring di sisinya, lalu kembali memeluknya.

“Kak, Nita kangen nih ama Kakak. Sejak Kak Evi pacaran ama Mbak Anna, kapan kita pernah tidur bareng lagi? Cerita-cerita sampe ketiduran? Nggak pernah kan?”
“Bukan gitu, Nit,” jawab Evi, “Kakak kan kuliahnya sibuk, bukan karena pacaran ama Anna.”
Evi kembali merasakan dadanya berdebar hanya karena dipeluk oleh adiknya yang cantik ini. Ia baru menyadari bahwa ia memang sudah lama sekali tak pernah sedekat ini dengan Nita.
“Lagian ngapain sih Kakak pacaran ama Mbak Anna? Ntar ketahuan Papa baru tahu lho!” kata Nita sambil mengernyitkan dahinya seakan memarahi kakaknya.
Wajah Nita begitu dekat dengan wajahnya, membuat Evi merasa canggung dan semakin berdebar. Evi berusaha keras meredam ketegangannya dan menutupi perasaannya dari adiknya.

“Sok tahu kamu,” kata Evi, “Papa kan udah tahu Kakak pacaran ama Anna. Malah sebelum berangkat ke Jerman, Anna pernah ketemu dan ngobrol ama Papa. Sekarang Papa udah bisa kok nerima kenyataan bahwa Kakak emang lesbian.”
Hangatnya hembusan napas Nita di lehernya membuat Evi semakin berdebar dan ia merasakan panas yang hebat dari selangkangannya. Evi tahu ia tak mampu menahan diri lebih lama lagi saat celana dalamnya mulai terasa lembab.

“Sana mandi dulu kamu!” tukas Evi sambil mendorong adiknya, “Kamu bau matahari!”
“Ngg..” balas Nita kolokan walau tetap melepaskan lengannya yang melingkari pinggang Evi.
“Tapi Kakak jangan pergi dulu. Nita masih kangen ama Kakak,” kata Nita sambil berjalan ke kamar mandi.

Evi duduk dan melipat kedua kakinya rapat-rapat di depan dadanya. Ia memeluk kedua kakinya sambil menyadarkan dagu ke lututnya. Ia menghela napas dalam-dalam berusaha menenangkan gairahnya.
“Kenapa aku sampai begitu, sih!” ia memarahi dirinya sendiri dalam hati.
“Nita kan adikku sendiri!”
“Mungkinkah karena sudah hampir 4 bulan Anna pergi dan aku kangen pada pelukan dan sentuhan lembut wanita?” Evi menyelonjorkan kakinya di kasur dan mulai meraba-raba pahanya. Sambil membayangkan dada Anna yang montok, tangan kiri Evi meraba-raba dadanya sendiri, sementara tangan kanannya naik meremas-remas selangkangannya.

Evi tersentak dari lamunannya dan melepas kedua tangannya dari bagian-bagian vitalnya dan kembali menarik napas dalam-dalam. Ia tak ingin terlihat bergairah saat adiknya keluar dari kamar mandi nanti.

Tak memakan waktu lama, Nita keluar dari kamar mandi dalam keadaan bugil. Ia mengambil celana dalam dan daster dari lemari. Evi menatap adiknya memakai celana dalam, jantungnya yang belum sepenuhnya kembali normal langsung berdebar lagi melihat tubuh Nita yang langsing namun berisi itu. Nita tidak mengenakan dasternya, tetapi langsung duduk bersila di sisi kakaknya di ranjang dan meletakkan dasternya di pangkuannya.

Evi tersenyum berusaha menutupi gairahnya dan membelai rambut adiknya. Nita memonyongkan bibirnya seperti orang ngambek dan berkata, “Kak Evi kok mau sih ama Mbak Anna? Dia kan..” Nita tampak agak ragu sebelum akhirnya melanjutkan, “Dia kan nggak cantik.” Bukannya marah, senyum Evi malah berubah jadi tawa, “Kamu nggak boleh menilai orang dari penampilan fisiknya. Anna kan baik banget orangnya, lembut dan penuh pengertian. Lagian fisiknya juga nggak jelek-jelek amat. Toket dan pantatnya kan gede banget, Nit. Asyik banget untuk diremas. Dan ciumannya jago banget. Dia yang ngajarin Kakak ciuman.”
“Iya sih. Toket Nita nggak gede ya, Kak?” kata Nita sambil memandang payudaranya.
“Siapa bilang?” balas Evi, “Toket kamu gede lagi! Kamu tuh tumbuh melebihi orang seumurmu. Waktu Kakak 17 tahun, toket Kakak belum segede kamu.”
Dengan polos, Nita bertanya, “Emang enak, Kak, diremas ama sesama cewek?”

Belum sempat Evi menjawab, Nita meraih tangan kakaknya dan meletakkannya di atas dadanya. Evi tersentak, namun membiarkan Nita menggerakkan tangannya berputar-putar di dada adiknya yang terasa lembab dan segar itu. “Mmmhh..” Nita mendesah dan matanya setengah menutup. Gairah Evi yang sudah sulit dikendalikan semakin meledak melihat reaksi adiknya yang sangat merangsang itu. Evi mulai meremas-remas dada adiknya dengan lembut lalu memilin-milin puting dada Nita yang terasa semakin membesar dan mengeras.

“Uhh..” Nita kembali mendesah dan membiarkan Evi meraba dan meremas dadanya, sementara kedua tangannya sendiri meremas sprei kasurnya. Tak lagi berusaha mengendalikan gairahnya yang sudah memuncak, Evi meraih dagu adiknya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya terus meremas dada Nita dengan semakin bernafsu. Evi menarik wajah Nita dan mengecup bibirnya yang basah.

“Mmmhh..” reaksi Nita yang hanya berupa desahan itu membakar nafsu Evi. Sambil meremas dada adiknya dengan bergairah, Evi mengulum bibir bawah adiknya yang segera membuat Nita membalas dengan mengulum bibir atas Evi. Kakak beradik ini saling menghisap bibir selama beberapa saat, sampai akhirnya Evi melepas ciuman mereka. Nita membuka mata mendapatkan ia dan kakaknya sama-sama terengah-engah setelah berciuman dengan penuh gairah.

“Ohh, ternyata enak ya, Kak? Nita nggak nyangka deh. Kak Evi juga enak?” tanya Nita dengan polos.
“Gila kamu, Nit! Dari tadi Kakak udah mau mati nahan gairah Kakak gara-gara kamu peluk, kamu cium, ngelihat kamu telanjang!” jawab Evi, “Kamu sih! Ngapain lagi kamu tarik tangan Kakak ke toket kamu?”

Nita tampak terkejut dengan kerasnya kata-kata kakaknya, “Sorry, Kak. Nita cuma kangen aja ama Kak Evi dan pengen disentuh. Sorry..” katanya sambil menundukkan kepala.
“Ssstt..” Evi menarik dagu adiknya lagi hingga mereka saling bertatapan, lalu menampilkan senyumnya yang manis, “Tapi kamu suka kan?” Nita hanya membalas dengan senyuman yang tak kalah manisnya.

Evi menggeser duduknya di ranjang hingga bersandar pada dinding, “Sini,” ia menarik lengan Nita agar duduk di sisinya. Mereka duduk berdampingan, Evi membelai rambut Nita, lalu dengan tangan di belakang kepala adiknya, Evi menarik wajah Nita mendekati wajahnya, “Nih ajaran Anna. Kamu nilai sendiri enak apa nggak.” Evi kembali mencium bibir Nita.

Kendali diri sudah sepenuhnya kembali pada dirinya setelah menyadari bahwa Nita juga menikmati semua ini, Evi mengatur alur percintaan tanpa tergesa-gesa. Ia tak lagi meraba-raba adiknya. Kini Evi hanya mengulum bibir adiknya, kadang seluruh mulutnya, lalu melepasnya, lalu mengulumnya lagi. Kadang ia biarkan Nita yang menghisap bibirnya dengan lebih bernafsu, lalu melepasnya untuk melihat adiknya maju mengejar mulutnya yang sedikit ia buka, memancing gairah Nita. Baca selengkapnya!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Cerita Bertiga Dapat Ngentot Adik dan Kakanya

  Tradingan.com - Setelah permainan cintaku dengan Evi sore itu, kami jadi sering melakukannya apabila ada kesempatan. Kadang kami bercinta di Kamar Evi dan kadang di kamarku. Evi yang masih berusia 22 tahun itu bercerita tentang hilangnya kegadisannya oleh pacarnya ketika masih SMA. Menurut ceritanya dia dijebak pacarnya untuk minum-minum ketika perayaan ulangtahunnya yang ke 17. Ketika dia mulai mabuk dia dibawa pacarnya dan di perkosa di hotel. Tragisnya dia diperkosa secara bergantian oleh 2 orang teman pacarnya saat itu.

Paginya setelah sadar dia di antar pulang dan pacar maupun kedua temannya menghilang entah kemana. Setelah lulus SMA akhirnya dia memutuskan untuk kuliah di Bali jurusan hotel dan tourisme. Sejak kuliah di Bali pun dia sudah beberapa kali melakukan sex dengan beberapa teman kuliah-nya. Hubungan kami pun cuma sebagai teman, tidak lebih, hubungan kami berdasarkan suka sama suka. Mungkin karena usia ku yang lebih muda. Hanya saja aku dapat previlege untuk tubuhnya kapan saja aku mau. Hubunganku dengan Evi pun tidak diketahui oleh Silvi kakaknya yang sudah bekerja di salah satu hotel di kawasan Jimbaran.

Silvi, tidak kalah cantiknya dengan Evi. Keduanya memiliki kulit yang putih bersih. Silvi lebih dewasa dalam pembawaan dan enak juga diajak ngobrol. Karena Silvi juga cantik aku sering bercanda dengan Evi mengatakan ingin tahu rasanya bila berhubungan dengan Silvi. Evi kadang tertawa dan kadang marah kalo aku berkata begitu. Walau marah, Evi akan hilang kemarahannya kalau kucumu lagi.

Seperti halnya sore itu, Ketika aku baru pulang kuliah, kulihat kamar Evi terbuka tetapi tidak ada orang didalamnya. Karena situasi kost yang sepi akupun masuk ke kamarnya dan mendengar ada yang sedang mandi dan akupun menutup pintu kamar Evi. Sudah seminggu lebih aku menginap di Denpasar karena sedang ujian akhir.

Setelah pintu kututup, kupanggil Evi yang ada dikamar mandi.

“Vi, lagi mandi yah? tanyaku basa-basi.

Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Akupun melanjutkan.

“Kamu marah yah Vi?, Maaf yah aku gak kasih tahu kamu kalo aku mau nginep di Denpasar. Hari ini aku mau buat kamu puas Vi. Aku akan cium kamu, bikin kamu puas hari ini. Aku aka.
“Mandi kucing kan kamu Vi mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.” Rayuku.

Masih tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi.

“Vi, ingat film yang dulu kita tonton kan. Aku akan bikin kamu puas beberapa kali hari ini sebelum kau rasakan penisku ini Vi. Aku akan cium vaginamu sampai kau menggelinjang puas dan memohon agar aku memasukkan penisku”.

Terdengar suara batuk kecil dari dalam kamar mandi.

“Vi, kututup pintu dan gordennya yah Vi”. Akupun berbalik dan menutup gorden jendela yang memang masih terbuka.

Ketika gorden kututup, kudengar pintu kamar mandi terbuka. Akupun tersenyum dan bersorak dalam hati. Setelah aku menutup gorden akupun berbalik. Dan ternyata, yang ada dalam kamar mandi itu adalah Silvi, kakak Evi, yang baru saja selesai mandi keluar dengan menggunakan bathrope berwarna pink dan duduk diatas tempat tidur dengan kaki bersilang dan terlihat dari belahan bathropenya.

Kaki yang putih terawat, betisnya yang indah terlihat terus hingga ke pahanya yang putih, kencang dan seksi sangat menantang sekali untuk dielus. Belum lagi silangan bathrope di dadanya agak kebawah sehingga terlihat dada putih dan belahan payudaranya. Kukira ukuran Branya sedikit lebih besar dari Evi, karena aku belum pernah menyentuhnya.

“Evi sedang ke Yogya, dia sedang Praktek kerja selama 2 bulan” Kata Silvi sambil memainkan tali bathrope-nya.
“Jadi selama ini kamu suka make love ya sama Evi, padahal aku percaya kamu tidak akan begitu sama adikku”
“Maaf Mbak, aku gak tahu kalo yang didalam itu Mbak Silvi” Kataku sambil mataku memandang wajah Silvi.

Rambutnya yang hitam sepundak tergerai basah. Dada yang putih dengan belahan yang terlihat cukup dalam. Paha yang putih mulus dan kencang hingga betis yang terawat rapih. Kalau menurutku Silvi boleh mendapat angka 8 hingga 8,5.

“Lalu kalo bukan Mbak kenapa?, Kamu enggak mau mencium Mbak, buat Mbak puas, memandikucingkan Mbak seperti yang kamu bilang tadi?” Tanya Silvi memancingku.
“Aku sih mau aja Mbak kalo Mbak kasih” Jawabku langsung tanpa pikir lagi sambil melangkah ke tempat tidur. Sebab sebagai laki-laki normal aku sudah tidak kuat menahan nafsuku melihat sesosok wanita cantik yang hampir pasti telanjang karena baru selesai mandi. Belum lagi pemandangan dada dan putih mulus yang sangat menggoda.
“Kamu sudah lama make love dengan Evi, Ren?” Tanya Silvi ketika aku duduk di sebelah kirinya. Aku tidak langsung menjawab, setelah duduk di sebelahnya aku mencium wangi harum tubuhnya.
“Tubuh Mbak harum sekali”, kataku sambil mencium lehernya yang putih dan jenjang.

Silvi menggeliat dan mendesah ketika lehernya kucium, mulutku pun naik dan mencium bibirnya yang mungil dan merah merekah. Silvi pun membalas ciumanku dengan hangatnya. Perlahan kumasukkan lidahku ke dalam rongga mulutnya dan lidah kami pun saling bersentuhan, hal itu membuat Silvi semakin hangat.

Perlajan tangan kiriku menyelusup ke dalam bath robenya dan meraba payudaranya yang kenyal. Sambil terus berciuman kuusap dan kupijat lembut kedua payudaranya bergantian. Payudaranya pun makin mengeras dan putingnyapun mulai naik. Sesekali kumainkan putingnya dengan tanganku sambil terus melumat bibirnya.

Aku pun mengubah posisiku, kurebahkan tubuh Silvi di tempat tidur sambil terus melumat bibirnya dan meraba payudaranya. Setelah tubuh Silvi rebah, perlahan mulutku pun turun ke lehernya dan tanganku pun menarik tali pengikat bathrope-nya. Setelah talinya terlepas kubuka bathropenya. Aku berhenti mencium lehernya sebentar untuk melihat tubuh wanita yang akan kutiduri sebentar lagi, karena aku belum pernah tubuh Silvi tanpa seutas benang sedikitpun. Sungguh pemandangan yang indah dan tanpa cela sedikit pun.

Payudaranya yang putih dan tegak menantang berukuran 36 C dengan puting yang sudah naik sangat menggairahkan. Pinggang yang langsing karena perutnya yang kecil. Bulu halus yang tumbuh di sekitar selangkangannya tampak rapi, mungkin Silvi baru saja mencukur rambut kemaluannya. Sungguh pemandangan yang sangat indah.

“Hh” Desah Silvi membuyarkan lamunanku, Aku pun langsung melanjutkan kegiatanku yang tadi terhenti karena mengagumi keindahan tubuhnya.

Kembali kulumat bibir Silvi sambil tanganku mengelus payudaranya dan perlahan-lahan turun ke perutnya. Ciumanku pun turun ke lehernya. Desahan Silvi pun makin terdengar. Perlahan mulutku pun turun ke payudaranya dan menciumi payudaranya dengan leluasanya. Payudaranya yang kenyal pun mengeras ketika aku mencium sekeliling payudaranya.

Tanganku yang sedang mengelus perutnya pun turun ke pahanya. Sengaja aku membelai sekeliling vaginanya dahulu untuk memancing reaksi Silvi. Ketika tanganku mengelus paha bagian dalamnya, kaki Silvi pun merapat. Terus kuelus paha Silvi hingga akhirnya perlahan tanganku pun ditarik oleh Silvi dan diarahkan ke vaginanya.

“Elus dong Ren, Biar Mbak ngerasa enak Ren” Ucapnya sambil mendesah.

Bibir vagina Silvi sudah basah ketika kesentuh. Kugesekan jariku sepanjang bibir kemaluan Silvi, dan Silvi pun mendesah. Tangannya meremas kepalaku yang masih berada di payudaranya.

“Ahh, terus Ren”, Pinggulnya makin bergyang hebat sejalan dengan rabaan tanganku yang makin cepat. Jari-jariku kumasukkan kedalam lubang vaginanya yang semakn basah.
“Ohh Ren enak sekali Ren”, desah Silvi makin hebat dan goyangan pinggulnya makin cepat.

Jariku pun semakin leluasa bermain dalam lorong sempit vagina Silvi. Kucoba masukan kedua jariku dan desahan serta goyangan Silvi makin hebat membuatku semakin terangsang.

“Ahh Ren”, Silvi pun merapatkan kedua kakinya sehingga tanganku terjepit di dalam lipatan pahanya dan jariku masih terus mengobok-obok vaginanya Silvi yang sempit dan basah.

Remasan tangan Silvi di kepalaku semakin kencang, Silvi seperti sedang menikmati puncak kenikmatannya. Setelah berlangsung cukup lama Silvi pun melenguh panjang jepitan tangan dan kakinya pun mengendur.

Kesempatan ini langsung kupergunakan secepat mungkin untuk melepas kaos dan celana jeansku. Penisku sudah tegang sekali dan terasa tidak nyaman karena masih tertekan oleh celana jeansku. Setelah aku tinggal mengunakan CD saja kuubah posisi tidur Silvi. Semula seluruh badan Silvi ada di atas tempat tidur, Sekarang kubuat hanya pinggul ke atas saja yang ada di atas tempat tidur, sedangkan kakinya menjuntai ke bawah.

Dengan posisi ini aku bisa melihat vagina Silvi yang merah dan indah. Kuusap sesekali vaginannya, masih terasa basah. Akupun mulai menciumi vaginanya. Terasa lengket tapi harum sekali. Kukira Silvi selalu menjaga bagian kewanitaannya ini dengan teratur sekali.

“Ahh Ren, enak Ren”, racau Silvi. Pinggulnya bergoyang seiring jilatan lidahku di sepanjang vaginanya. Vagina merahnya semakin basah oleh lendir vaginanya yang harum dan jilatanku. Desahan Silvi pun makin hebat ketika kumasukkan lidahku kedalam bibit lubang vaginanya. Evi pun menggelinjang hebat. Baca selengkapnya!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia